oleh

Profil Todung Mulya Lubis, Pengacara HAM dan Pecinta Puisi

-Wawancara-1.461 views

Predikatnya banyak, tak hanya pengacara, juga budayawan, penyair, juga kini duta besar RI untuk Norwegia.

Todung Mulya Lubis adalah salah satu pengacara terkemuka Indonesia. Ia menjejakkan kakinya di dunia kepengacaraan dengan awalnya menjadi salah satu pengacara pada Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, lembaga yang didirikan pengacara Adnan Buyung Nasution. Di YLBHI ini Todung –demikian panggilannya- bersentuhkan dengan kasus-kasus hukum yang, terutama, berkaitan dengan persoalan hak-hak rakyat kecil yang tak berdaya di depan penguasa.

Todung lahir di Tapanuli Selatan pada 4 Juli 1949. Ia menyelesaikan sekolah dasarnya di Jambi, SMP di Pekanbaru, SMA di Medan sebelum kemudian masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Saat mahasiswa ia bersama sejumlah aktivis lainnya, termasuk Arief Budiman, menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah yang diprakarsai Tien Soeharto, istri Presiden Soeharto. Menurut ia, pembangunan itu tak penting dibanding peningkatan taraf hidup masyarakat yang masih rendah. Dana pembangunan proyek itu mestinya lebih baik untuk kesejahteran rakyat.

Selesai kuliah Todung total menceburkan diri dalam YLBHI dan di sini ia
terakhir menduduki jabatan Direktur Bidang Nontigasi. Di LBH Jakarta tempatnya bekerja ia lalu mendirikan divisi hak-hak asasi manusia dan sejak 1979 rutin menerbitkan laporan tentang HAM di Indonesia. Dari LBH, Todung kemudian melanjutkan studi bidang doktoralnya pada Law School, University of California, Berkeley, USA dan Harvard Law School, Cambridge, Massachusetts, USA. Disertasinya tentang hak asasi manusia.

Pulang ke Indonesia ia membangun kantor pengacaranya yang hingga kini beradi kawasan segitiga emas Sudirman, Jakarta. Todung mendapat gelar profesor dari dari University of Melbourne ini.

Ia pernah berselisih paham dengan seorang advokat yang berbuntut panjang: lahirnya organisasi advokat KAI –Kongres Advokat Indonesia. Sebagai penyair Todung juga telah menerbitkan buku kumpulan puisinya, antara lain berjudul Jam-jam gelisah : yang diterbitkan PT Gramedia.

Sempat beberapa kali diisyukan menjadi calon jaksa agung, Todung akhirnya memang mendapat “tugas negara.” Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai duta besar RI untuk negeri Norwegia. Todung rajin mengabarkan aktivitasnya sebagai dubes melalui media sosial, termasuk lewat facebook. (domainhukum/berbagai sumber)

Pendidikan
• Fakultas Hukum Universitas Indonesia (lulus tahun 1974)
• Master of Law, Law School, University of California at Berkeley, USA (1978)
• Master of Law, Harvard Law School, USA (1980)
• Doctor of Juridical Science, University of California at Berkeley, USA (1990)

Karir
• Anggota Asosiasi Advokat Indonesia (IKADIN)
• Asosiasi Konsultan Hukum Pasar Modal (Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal / HKHPM)
• International Bar Association (IBA)
• Kurator berlisensi dan Administrator serta Konsultan Paten Terdaftar
• Panel arbiter Dewan Arbitrase Nasional Indonesia (Badan Arbitrase Nasional Indonesia / BANI) dan Chambers of Commerce Internasional (ICC) Paris.
• Dosen dibeberapa Universitas di Indonesia, antara lain Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Atmajaya, Yogyakarta, dan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed