oleh

Raffi Ahmad dan Tuduhan Melanggar Protokol Kesehatan

-OPINI-703 views

Pemerintah seharusnya tak menunjuk Raffi Ahmad sebagai influencer untuk menyukseskan program vaksinasi covid-19. Masih banyak anak muda, figur lain yang lebih pantas. Mengandalkan Raffi Ahmad hanya dengan alasan memiliki banyak follower atau kepopuleran semata adalah sebuah kesalahan. Ada yang jauh lebih pantas dari Raffi, seperti artis Maudy Ayunda, Sherina Munaf atau Vidi Aldiono. Terkenal, cerdas, berprestasi, dan berpendidikan tinggi.

Raffi kini menghadapi gugatan pengacara David Tobing karena tindakannya yang menciderai program vaksinasi. Ia menghadiri sebuah pesta usai divaksin pada 13 Januari lalu. Di media sosial foto-foto Raffi Ahmad berkerumun dengan teman-temannya tanpa masker terlihat jelas dan tersebar cepat. David menuntut Raffi tidak hanya meminta maaf melalui  televisi dan media cetak, juga meminta ia mundur sebagai influencer program vaksin.

Raffi telah minta maaf atas tindakannya melalui media sosial. Tapi tentu itu tak cukup karena yang dilakukannya sudah tersebar ke mana-mana dan diketahui publik. Publik mendapat contoh amat buruk dari figur yang diharapkan mendukung program pemerintah sekaligus mencegah penyebaran  virus corona. Harapan pemerintah ia menjadi contoh  sebuah program vaksinasi  yang menelan anggaran puluhan trliun rupiah mungkin tak tercapai. Ia dengan sukses telah mempertontonkan sebuah pelanggaran protokol kesehatan.

Kita tak tahu siapa yang memilih Raffi. Jika ukurannya prestasi kita tak tahu ia memiliki prestasi apa selain mungkin yang publik ingat, ia pernah digerebek polisi karena menggelar pesta di rumahnya dan dipesta itu polisi menemukan narkoba  -hal yang membuat ia ditahan BNN. Jika kita menengok layar TV,  maka yang kita lihat adalah acara-acaranya yang lebih banyak “haha hihi,” jauh dari nilai edukatif. Pemerintah -atau Presiden- mesti selektif menunjuk tim yang menjaring atau mencari orang-orang yang akan dipakai sebagai “influencer” semacam Raffi ini. Anggota tim  mestinya orang yang “peka” memiliki referensi luas dan mampu memperhitungkan apa yang terjadi atas figur yang dipilih.

Kasus Raffi yang kini berujung pada meja hijau akan segera menjadi perhatian  publik. Publik juga menunggu apakah aparat keamanan akan memeriksa semua yang terlibat pesta itu, memeriksa penyelenggaranya, dan apakah akhirnya menjatuhkan hukuman karena melanggar ketentuan yang ada atau tidak. Pengadilan Raffi akan memperlihatkan bagaimana hukum menilai perbuatan  yang dilakukan para kelas menengah -atau atas-  ini atas tindakan mereka di masa pandemi. (domainhukum.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed