oleh

Diplomat Senior Beri Pencerahan Mahasiswa Universitas Jambi

-NEWS-507 views

Jambi –   Jumat 11 Juni 2021 Universitas Jambi menggelar  bedah buku tentang Diplomasi Indonesia tulisan para diplomat Kemlu angkatan Sekdilu X. Dibuka oleh rektor Universitas Jambi, Prof. Dr. Sutrisno, dalam sambutannya Sutrisno menyatakan kegiatan ini merupakan proses penting dalam meningkatkan cara menganalisa hubungan internasional. ”Dalam konteks perubahan paradigma pendidikan nasional, yaitu konsep Merdeka Belajar, mahasiswa tidak saja dituntut memahami konsep dasar dan teori, tetapi harus paham betul bagaimana prakteknya yaitu hubungan luar negeri dan ilmu pemerintahan”, kata Sutrisno.

Menurut Sutrisno para mahasiswa dan dosen universitas dimanapun sangat menginginkan interaksi langsung dengan para diplomat senior RI.

”Pada tahun mendatang, sistem pengajaran juga akan berubah dari yang awalnya bernuansa di dalam kampus menjadi di luar kampus. Nuansa pembelajaran akan lebih nyaman, karena mahasiswa dapat berdiskusi lebih dengan dosen”, kata Rektor Universitas Jambi tersebut. Selanjutnya disampaikan bahwa belajar dengan outing class,  tidak hanya mendengarkan penjelasan dosen, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul. Semoga melalui diskusi ini mahasiswa dapat menimba pengalaman dari para diplomat RI.

Penyelenggaraan Bedah Buku ini merupakan bagian dari program studi (prodi) acara universitas. Kegiatan mendengarkan paparan dari 3 (tiga) diplomat senior, yakni Dr. Darmansjah Djumala, Dubes RI untuk Austria merangkap Wakil Tetap RI pada PBB di Wina, Bagas Hapsoro SH. MA, Dubes RI untuk Swedia periode 2016-2020, dan Drs. Simson Ginting, Kepala Fungsi Politik KBRI Zagreb tahun 2010-2014.

Mengawali presentasinya Darmansjah Djumala menjelaskan maksud diterbitkannya buku tersebut. Sebagai salah satu penulis, Darmansjah menyatakan bahwa tujuan penyusunan buku Diplomasi adalah dilandasi oleh keinginan para penulis untuk berbagi pengalaman dan memberi kontribusi pemikiran bagi masa depan diplomasi Indonesia. Pengalaman diperoleh dan digali saat mereka ditugaskan sebagai diplomat di berbagai negara.

Mewakili rekan-rekan penulis buku Djumala juga mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya atas dukungan Universitas Jambi yang berkenan menjadi host untuk acara bedah buku ini. Pekerjaan seorang diplomat itu setidaknya mewakili dan melaporkan. ”Itu adalah dua pekerjaan utama dari 7 fungsi diplomat”, kata Dubes RI di Wina tersebut. Representing bagi diplomat adalah mewakili negara, pemerintah dan presiden ke negara sahabat.

Sedangkan reporting itu adalah melaporkan segala perkembangan yang terjadi. Laporan tersebut disampaikan ke pemerintah pusat dalam hal ini Jakarta. Dalam hal ini, di samping melaporkan, para  diplomat juga menyertakan analisa dan pilihan-pilihan tindakan yang merupakan saran kepada Pusat.   Djumala memberikan contoh tulisan tentang krisis Ukraina (oleh Dubes Niniek Kun Naryati) dan kasus Nagorno Karabah (yang dianalisa oleh Dubes Prayono Atiyanto).

Disampaikan bahwa pada kasus krisis Ukraina semula merupakan ketidakstabilan politik internal bereskalasi menjadi krisis internasional. Indonesia tetap konsisten menjalankan politik luar negerinya yang ditujukan untuk terciptanya perdamaian. Demikian pula dengan kasus Nagorno Karabah, Indonesia memberikan seruan agar kedua belah pihak dapat menahan diri, memberlakukan gencatan senjata dan mengedepankan dialog.

Bagas Hapsoro yang juga merupakan salah salah satu editor dan penulis menambahkan pentingnya diplomasi ekonomi. Menurut Bagas tugas diplomat mencakup 3 (tiga) pesan. Pertama, angka statistik yang perlu menjadi dasar. Yaitu indikator pelaksanaan diplomasi politik, ekonomi, sosial budaya, perlindungan WNI. Kedua, diplomasi adalah kerja bersama pemerintah pusat dan daerah – masyarakat madani – swasta – akademisi- diaspora indonesia di luar negeri. Ketiga, kinerja harus bisa diukur dan dipertanggungjawabkan. Mengutip pesan Presiden Jokowi dan Menlu Retno Marsudi, diplomasi ditujukan untuk kepentingan rakyat.

Simson Ginting sebagai pembahas ketiga menyatakan tentang peranan propaganda dalam hubungan internasional. Disebutkan bahwa melalui propaganda, seseorang dapat dibawa ke mana dia tidak ingin pergi dan melewati jalan yang tidak dia sadari. Artinya, seseorang dapat melakukan satu tindakan karena merasa harus mela- kukannya dan tindakan itu berasal dari keyakinannya sendiri.

Simson mengambil contoh satu peristiwa menghebohkan terjadi pada Januari 1996. Tiga orang wanita Inggris  memasuki kompleks pabrik pesawat milik British Aerospace di Warton dengan membawa martil. Mereka menghancurkan persenjataan sebuah pesawat jet Hawk yang akan dikirim ke Indonesia serta melubangi badan pesawat itu. Mereka ditangkap polisi dan diadili.

Selama persidangan yang berlangsung lebih dari dua bulan, sekitar dua ribu orang dari bagian utara Inggris menandatangani petisi serta mengajukan protes kepada British Aerospace. Akhirnya, dewan juri yang berjumlah 12 orang membebaskan ketiga orang wanita itu. Berdasarkan Genocide Act (Inggris telah meratifikasi Konvensi Genosida PBB), mereka dinilai tidak bersalah.

Tindakan ketiga WN Inggris ini mempengaruhi opini dunia. Peristiwa itu mendapat liputan luas dari pers internasional, terutama pers Inggris. Intensitas gerakan anti-Indonesia dan mendukung perjuangan rakyat Timor Timur pun terus meningkat. Aksi nekat ketiga wanita itu lahir dari keyakinan yang kuat tentang apa yang dianggap oleh mereka sebagai keadilan dan kebenaran. Menurut propaganda modern, hal-hal seperti itu harus dimanfaatkan untuk melakukan satu tindakan.

Sambutan pembahas yang memperkaya isi buku.

Para pembahas memberikan pandangan yang bervariasi dan menambah bobot diskusi. Ahmad Badawi dan Mohammad Arief menjelaskan bahwa buku diplomasi Indonesia tersebut merupakan sumbangan besar bagi pengetahuan praktis masalah tugas diplomasi khususnya bagi Indonesia. Namun keduanya memberikan masukan agar sequences cerita dapat dimulai dari periode tertentu. Disamping itu mereka juga mengharapkan suatu kesimpulan umum untuk dijadikan pijakan kedepan.

”Buku diplomasi ini penting, dan kami patut menyambut baik dibahasnya buku Kiprah Diplomat RI di Mancanegara. Kami juga menghargai kerja keras dan dedikasi para diplomat senior dalam menjabarkan dalam tataran praktisi di seminar nasional ini. Penulisan 21 artikel dilengkapi dengan penjelasan mengenai fungsi diplomasi menjadi sangat aktual, mudah dipahami dan bermanfaat bagi siapapun,” kata Dr. H. Syamsir, SH, MH, Ketua Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan Fakultas Hukum Universitas Jambi. Rangkuman tersebut diberikan setelah mendengar pandangan dan masukan dari para dosen dan mahasiswa Universitas Jambi.

Webinar yang diselenggarakan Fakultas Hukum Universitas Jambi dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai universitas. Perguruan tinggi lainnya yang ikut serta dalam webinar antara lain adalah: Universitas Tanjung Pura, Universitas Alam Negeri, Universitas Sriwijaya, Universitas Lampung, Universitas Lambung Mangkurat, dan Universitas Jember.

Sebagai catatan dalam bulan Juni 2021 ini kegiatan bedah buku diplomasi RI ini juga dilakukan di universitas lain. Yaitu Universitas Kadiri di Kediri, London School of Public Relations, Universitas Lambung Mangkurat dan Universitas Atmajaya Jakarta.  []

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed