oleh

Curhat Komut Tiga BUMN, Sulaiman AB

-OPINI-713 views

Oleh:  Zaenal Wafa

Siang itu menjelang akhir Desember 2019, hape Android saya berdering. Ternyata yg mengontak adalah Mayjen TNI Purn Sulaiman AB mantan Komandan Pusat Polisi Militer (Dan Puspom) TNI. Rada surprise saya, sebab biasanya saya yg menelepon dia lebih dulu. Misalnya sewaktu saya mau mengirim undangan pernikahan anak perempuan sulung kami pada September 2018. Via telepon itu, ia mengajak saya ketemuan di Resto Pendopo, Hotel Borobudur, Jakarta Pusat sehabis Ashar.

Perkenalan saya dengan sosok yg akrab saya sapa dengan Pak Leman bermula pada akhir 2002, saat ia masih aktif berdinas sebagai Komandan Puspom TNI di kawasan Gambir, Jakpus. Ia pernah bilang, kalau atasannya langsung KSAD saat itu Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu sering memanggilnya dengan sapaan Lemang. Yang berjasa mengenalkan saya ke Pak Leman adalah sahabat saya Saifuddin Gani atau Acun almarhum, putra asli Aceh aktivis sebuah LSM dengan yang fokus pada kegiatan dalam konteks Jeda Konflik Kemanusiaan di Aceh mutakhir.

Melalui Bung Saifuddin, saya akhirnya diminta Pak Leman untuk menjadi editor utama buku berjudul “Aceh Bakal Lepas?: Sejarah Perundingan RI-GAM hingga Darurat Sipil di Aceh”. Buku yang digagas Pak Leman sewaktu aktif berdinas itu kami susun hampir dua tahun pada 2003-2004 dan diluncurkan pada 2005 di Balai Kartini, Jakarta.

Benar saja, memasuki resto di Hotel Borobudur tsb ia sudah menunggu saya. Masih berkumis tebal dan berdahi lebar. Sambil mengucap salam saya menghormat ala militer dan ia pun mempersilahkan saya duduk di depannya. Tetap hangat serta ramah ia bertanya aktif di mana saya sekarang yg saya jawab di DPR RI Senayan. Agak kaget ia mendengar jawaban saya. Disangkanya saya sudah menjadi anggota dewan legislatif. Padahal tepatnya saya menjadi tenaga ahli dari anggota DPR dari Fraksi PKB Marwan Jafar. Ia merasa tak asing lagi dengan nama Marwan yang ia ketahui sebagai mantan Menteri Desa-PDTT era Kabinet Kerja Presiden Jokowi periode pertama. “Titip salam hormat buat beliau kalau ketemu, ya, Pak Zaenal,” tukasnya antusias.

Ia pun menanyakan saya bersama Mas Marwan di komisi berapa. Begitu saya menjawab di Komisi VI yang bermitra kerja antara lain dengan Kementerian BUMN, wajahnya tampak semringah. Memang sebelum pertemuan sore itu saya sudah mengetahui kabar, selepas tak aktif berdinas TNI ia berkesempatan dipercaya, ditunjuk atau diminta–terlepas apa pun istilahnya–menjadi Ketua Dewan Pengawas Perum DAMRI, lalu ke Komisaris Utama PT ASDP (Angkutan Sungai dan Penyeberangan) serta kemudian Komut di PTPN 1 Langsa, Aceh. Itu sebabnya Pak Leman tampak gembira dan menyebut pertemuan dengan saya sebagai pas atau kebetulan yang tak ia sangka karena saya dianggap sedikit banyak otomatis mesti mencermati sepak terjang BUMN.

Sebab itu lah, ditemani camilan kacang rebus dan pisang rebus serta secangkir kopi, segera saja ia mengisahkan jejak langkah pengalaman selama di ketiga BUMN tadi dengan lancar mengalir. Pertama, ia pernah menjadi Ketua Dewan Pengawas di DAMRI khusus angkutan dari dan ke Bandara Soetta. Bukan rahasia lagi, perusahaan milik negara itu merugi melulu alias tidak sehat saat ia masuk ke situ. Mulai dari terjadi kanibal penggantian onderdil, pemakaian oli dan ban bekas hingga SDM tak berkeahlian, nuansa KKN serta akal-akalan laporan keuangan maupun jumlah penumpang.

Ia tak mengeluh, justru tertantang buat membenahi selangkah demi selangkah. Lini laporan jumlah penumpang bidikan awalnya. Sangat penasaran karena tingkat kenaikan penumpang seret tak signifikan, mentalnya sebagai mantan komandan pasukan pun muncul. Tanpa memberi tahu siapa pun, ia menyamar penumpang DAMRI biasa dan naik dari Bandara Soetta. Tahulah dia, ternyata beberapa kali bus berhenti dan menaikkan orang tanpa karcis. Bus jadi penuh dan ia pun ikut berdiri. Pantas saja laporan jumlah penumpang cuma jalan di tempat.

Esok paginya, ia kumpulkan dirut dan jajaran. Ia berpesan singkat: Semua direksi diminta perbaiki kinerja secara optimal atau mundur. Apalagi begitu ia beberkan data fakta hasil temuannya soal penumpang. Sontak semua diam, meski sebelumnya dibolehkan bicara.
Begitulah seiring waktu, ada perobahan mental SDM, dari DAMRI yg semula merugi, nol kerugian hingga mulai untung dan mampu berinvestasi.

Sampai di situ, pada satu kesempatan bertemu sekitar sepuluh tahun lalu, saya ucapkan selamat kepada Pak Leman. Khususnya karena ada tambahan beberapa armada baru, sudah berpendingin sangat baik dan bermesin Mercy. Meski tak kaget, sambil tersenyum ia tetap bertanya tahu dari mana saya? “Dari petugas terminal DAMRI di Terminal khusus DAMRI di Bogor, Pak Leman,” desis saya dengan tenang.
“Wah, bagaimana ceritanya Pak Zaenal?” ujarnya ingin tahu.
“Malam itu saya ke terminal DAMRI di Bogor untuk menjemput istri yang akan pulang dinas dari daerah. Biasanya dari Bandara Soetta, istri akan naik bus Damri. Nah, selama menunggu sambil ngopi dan merokok, saya ngobrol dengan petugas terminal. Saya amati beberapa bus DAMRI yg datang jelas terlihat baru. Hal itu lalu saya tanyakan ke petugas itu. Dia menjelaskan memang ada penambahan bus-bus baru, dari semula 8 unit menjadi 15 unit. Apa benar begitu Pak Leman?” tanya saya mengkonfirmasikan info tsb.
“Ya, benar Pak Zaenal. Alhamdulillah kerja kami memperbaiki DAMRI ada hasilnya”.
“Berarti kalau saya mengucapkan selamat nggak salah kan Pak?” sambung saya dijawab olehnya dengan senyuman dan anggukan kepala.

Kedua, seusai membenahi DAMRI Pak Leman pun mengungkapkan pengalaman saat menjadi Komut PT ASDP. Salah saty yg berkesan adalah ketika muncul dua perkubuan di jajaran direksi. Parahnya, dampak perseteruan keduanya menjalar dan merembes sampai ke kalangan bawahan. Ia dan jajaran komisaris sepakat buat segera menyelamatkan perusahaan dari kondisi yg berpotensi tak sehat dan membahayakan tsb.

Mewakili jajaran komisaris, ia melapor kepada Menteri BUMN Sofyan Djalil. Sang menteri memberi arahan agar tidak buru-buru mengambil tindakan. Mengapa? Sebab, pihaknya mempunyai Tim Konsultan buat melakukan kajian terhadap kasus di ASDP itu. Hasil kajian pada waktunya bakal diinfokan. Dua pekan kemudian, sang menteri mengabari dan intinya memutuskan bahwa hasil kajian tim konsultan tidak bisa diterapkan. Solusinya kembali diserahkan kepada jajaran komisaris ASDP untuk mengambil tindakan yg diperlukan.

Sehari berikutnya, secara kolegial para komisaris memutuskan memecat tanpa ampun beberapa direksi yg saling berkonflik. Kontan peristiwa itu menjadi pemberitaan headline sejumlah media massa. Anehnya, menyusul pemecatan tsb para direksi malahan menggelar konferensi pers.
“Hari-hari selanjutnya saya sering mendapat telepon dari kalangan wartawan. Saya bilang ke mereka: Anda ini percaya info dari direksi yg kami pecat atau lebih percaya kepada info dan sikap kami? Lagian kami juga belum atau tidak mengenal Saudara. Karena itu, kalau Anda memang ingin mengkonfirmasi, melakukan check and recheck mencari kebenaran, sebaiknya Anda datang ke kantor kami. Dengan senang hati dan tangan terbuka kami akan jelaskan duduk perkara sebenarnya. Bener apa salah tanggapan saya, Pak?”
“Para wartawan itu ada yg datang nggak Pak?”
“Satu pun nggak ada yg datang!”

Ia menambahkan, apakah kemudian ASDP sebagai entitas perusahaan menjadi lebih baik dan sehat atau tidak, ia mempersilahkan warga publik maupun para pihak yg berkepentingan serta pemerintah memberikan penilaian dan kritikan konstruktif,” ujarnya menandaskan.

Ketiga, ia menjadi Komisaris Utama di PTPN 1, Langsa, Aceh. Ringkas kata, ia mengaku bukan hanya senang karena tetap atau masih dipercaya ke posisi komut. Tapi tepatnya, ia sungguh mensyukuri karena cakupan wilayah fisik PTPN tersebut menjangkau hingga Kabupaten Tamiang yg notabene adalah daerah kampung kelahiran dia. Menurut hematnya, inilah momentum dia dapat berkesempatan cukup besar berkontribusi nyata buat memajukan atau membangun daerah termasuk warga masyarakat setempat.

Ratusan pekerja PTPN yang telah mengabdi bagi perusahaan puluhan tahun ia usulkan dan disetujui jajaran direksi supaya mereka mendapat penghargaan selayaknya berdasarkan penilaian kinerja secara obyektif dan adil. Saya mengecek via Google memang benar ada berita tsb. Hal penting lainnya, ia menyetujui sepenuhnya dan mendesak Bupati setempat serta dinas terkait agar segera merealisasikan pelepasan sebagian tanah perkebunan milik negara atau sebagian hak guna usaha kepada para warga masyarakat atau pekebun rakyat. Di sisi lain, ia sudah merencanakan memperbaiki kinerja internal manajemen dan SDM di perusahaan plat merah perkebunan tsb yg menurut hematnya digerogoti praktek virus-virus KKN juga.

Sayangnya, baru sekitar setahun lebih sebagai komut seperti terasa tiba-tiba ia mendapat telepon dari salah satu deputi Kementerian BUMN. Isinya, info mengenai rencana penggantian dan pemberhentian komut di PTPN 1. Agak kaget, ia pun merespon tidak apa-apa kalau harus diberhentikan dan penerusnya lebih baik. Ditambahkannya, semisal diberhentikan karena dinilai melakukan kesalahan, ia hanya ingin mengetahui apa bentuk atau bukti persis kesalahannya. Sang deputi hanya menjawab bahwa terkait hal tsb Menteri BUMN yg memiliki kewenangan buat menjelaskan atau menyampaikan dan info selanjutnya akan dikabari.

Seminggu kemudian deputi mengontak lagi yg menyarankan agar Pak Leman datang ke kantor Kementerian BUMN Jakarta. Ia menyangka akan mendapat jawaban langsung atau penjelasan dari Menteri BUMN Rini Soemarno. Sesampai kantor kementerian ia diminta dan diterima oleh deputi yang mengontak sebelumnya. Saat di ruang kerja deputi, Pak Leman bertanya apa akan diantar menghadap Menteri. Sambil meminta maaf Pak Deputi menjawab Bapak tidak perlu ke Bu Menteri, karena beliau sudah mendelegasikan padanya untuk menyampaikan penjelasan.

Intinya, rencana penggantian Komut PTPN 1 disebutkan semata karena alasan politis. Samasekali bukan karena kinerja tak baik maupun unsur kesalahan kerja. Terdengar klise, sangat biasa dan normatif belaka. Akhirnya diketahui surat keputusan yang ditandatangani Menteri BUMN pun berbunyi Pak Leman mendapat pemberhentian dengan hormat dan kepadanya diucapkan terimakasih atas jasa-jasanya kepada perusahaan dan negara selama ini.

Sore itu, ekspresi wajahnya tampak tegar dan riang saja sehabis mengungkap hal tsb. Tapi bagi saya, tersisa pertanyaan kecil retorik: Apa yg dimaksud alasan politis tsb? Ia menilai boleh jadi ada yang menganggap dirinya sebagai ‘orangnya SBY’. Spontan ia merespon, terkait para purnawirawan jenderal berpolitik yg pernah dan masih jadi ketua umum parpol–seperti Wiranto, SBY dan Prabowo–ia mengaku tak tertarik atau tergoda meski beberapa kali mendapat tawaran bergabung.

Mungkin ia memilih prinsip alias tetap memegang teguh politik tentara adalah politik bela negara dan mencintai tanah air. Tampaknya seorang Sulaiman AB memiliki sikap politik seperti Ryamizard Ryacudu atasannya langsung saat aktif di tentara. Sedangkan dalam konteks pengalaman sebagai komut di tiga BUMN bidang transportasi darat, laut dan perkebunan, tercatat lima Menteri BUMN–Soegiharto, Sofyan Djalil, Mustafa Abubakar, Dahlan Iskan dan Rini Soemarno–pernah menjadi bosnya.

Ah, Selamat Pak Leman dan smoga bahagia bersama anak-cucu…*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed